September 22, 2010

Peningkatan Permukaan Laut

Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change)memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau lainnya.



Jangan kalian pikir bahwa kita tidak merasakan getahnya, karena baru-baru ini Jakarta dikabarkan mulai terkikis permukaannya. Apakah Jakarta akan seperti gambar di atas? Kenapa tidak?

FAKTA

Memang kita tidak dapat menarik kembali air yang jumlahnya sulit dihitung itu supaya Negara Kepulauan Indonesia ini tetap utuh pulau-pulaunya. Lalu apa? Kita MAMPU meminimalisir pertambahan volume air yang ada dengan gerakan peduli lingkungan. Sebenarnya gerakan itu mudah kok… salah satunya cukup dengan bersyukur. Lho? Kok jadi yambung kesitu? Tapi itu benar wahai readers. Kalian sadar ga kalau penggunaan AC itu dapat merusak lingkungan dengan Freon yang dihasilkan dari AC tersebut? Kita harus bersyukur sebagai warga Indonesia yang letaknya bukan di Afrika yang panasnya udah ga akan kebayang sama kita. Tanpa Air Conditioner kita juga bisa hidup kok…

Tapi kan panas !!!

Kan ada “adek”nya AC yang ramah lingkungan yakni kipas angin. Selain harga yang lebih murah, kipas angin juga bisa membuat kita merasa nyaman disuatu ruangan yang pengap kok.

Sedikit kalimat persuasif dari penulis, tapi kali ini bukan untuk membuang AC dirumash anda ke tempat pembuangan, melainkan “Mari kita minimalisir penggunaan AC. Jangan nyalakan AC jika tak ada orang di ruangan tersebut !”

September 12, 2010

Sang 'Es' Mengancam Dunia

Sebuah pulau es seluas 260 km2, lima kali luas Jakarta Pusat, yang lepas dari gletser Petermann, Greenland, melintasi Lautan Arctic, Rabu (11/8/2010). Bisa dibayangkan, apabila seluruh es Greenland mencair, bisa menaikkan permukaan air dunia 6 meter. Jakarta Utara bisa tenggelam jika permukaan laut naik 2-3 meter.

Pulau es yang sedang "berenang" di Lautan Arctic itu segera memasuki tempat terpencil yang disebut Selat Nares, sekitar 620 km selatan Kutub Utara, yang memisahkan Greenland dan Pulau Ellsemere, Kanada. Dalam skenario terburuk, bongkahan es raksasa itu bisa saja mencapai perairan yang ramai dilalui kapal di mana bongkahan es Greenland serupa pada tahun 1912 menghancurkan Titanic.

"Pulau es itu sangat besar sehingga mustahil bisa menghentikannya," kata Hon-Ove Methie Hagen, glasiologis dari Universitas Oslo.

Jika pulau es setebal Empire State Building di New York ini memasuki Selat Nares sebelum beku musim dingin (bulan depan), lintas kapal di sekitar Kanada akan terusik. Dan, jika bongkahan es raksasa itu mengalir ke selatan akibat didorong arus, lalu mencapai pantai timur Kanada, perairan yang sibuk, pengiriman minyak dari Newfoundland akan terganggu.

Pulau es itu amat berbahaya bagi anjungan minyak Grand Banks di lepas pantai Newfoundland, Kanada. "Dari sanalah bisa menjadi titik awal bencana besar," kata Mark Drinkwater dari Badan Antariksa Eropa.

Daya dorong pulau es itu sangat kuat, dapat menyapu anjungan minyak lepas pantai serta kapal-kapal yang ada di depannya. Benturan yang ditimbulkannya pun dapat menyebabkan kerusakan parah. Jika es itu mencair, berpotensi menaikkan permukaan laut global setinggi 20 kaki atau 6 meter!

Pulau es itu pertama kali terlihat lewat satelit oleh seorang peramal es dari Kanada, Tudy Wohllenben, Kamis (5/8/2010). Debit air segar jika es itu meleleh bisa memasok kebutuhan air bagi seluruh warga Amerika Serikat selama 120 hari atau empat bulan.

Canadian Ice Service memperkirakan, laju bongkahan es itu memakan waktu satu atau dua tahun mencapai pesisir timur Kanada. Kemungkinan juga akan pecah menjadi potongan-potongan kecil akibat menabrak gunung es dan pulau-pulau karang. Bongkahan-bongkahan itu juga akan roboh atau mencair akibat angin dan gelombang. "Tapi bongkahan hasil pecahan itu terbilang cukup besar," kata Trudy Wohllenben.

Reuters melaporkan, peristiwa lepasnya pulau es dari gletser Petermann, Kutub Utara, ini merupakan fenomena alam terbesar dalam kurun 28 tahun. Terakhir terjadi pada tahun 1962 ketika Ward Hunt Ice Shelf, Greendland, membentuk sebuah pulau.

Para ilmuwan Amerika Serikat mengatakan, sulit mengklaim robohnya bongkahan es raksasa itu akibat pemanasan global sebab rekaman tentang air laut di sekitar gletser itu tersimpan sejak 2003. Aliran air laut di bawah gletser menjadi penyebab utama lepasnya pulau es dari Petermann, Greenland. (sumber: Kompas.com)